Strategi pendidikan adalah strategi yang diterapkan untuk melaksanakan program pendidikan dan pengajaran.
Strategi pendidikan model SPICES disarankan oleh DIKTI untuk dipergunakan sebagai strategi pembelajaran di fakultas kedokteran di seluruh Indonesia
SPICES    Tradisional
Student Centered learning
Teacher centered learning
Problem based
Information oriented
Integrated or interprofessional
Subject or discipline based
Community based
Hospital based
Elective driven
Uniform
Systematic
Opportunistic

  1. Student centered
  2. Perbedaan mendasar antara student centered learning dengan teacher centered terlihat jelas pada orientasinya. Orientasi strategi student centered learning lebih menekankan pada terjadinya kegiatan belajar oleh siswa, atau berorientasi pada pembelajaran (learning oriented), sedangkan strategi teacher centered lebih berorientasi pada konten (content oriented). Dengan kata lain, pada student centered learning, mengajar tidak lagi difahami sebagai proses untuk mentransfer informasi, akan tetapi sebagai wahana untuk memfasilitasi terjadinya pembelajaran. Prinsip-prinsip self directed learning dan pembelajaran orang dewasa (adult learning) diterapkan dalam strategi student centered learning ini. Prinsip-prinsip self directed learning antara lain adalah bahwa siswa harus mengambil inisyatif untuk:

    • mendiagnosis kebutuhan belajar
    • menetapkan tujuan pembelajaran
    • menetukan sumber belajar
    • mempelajari kegiatan yang dibutuhkan untuk menguasai ilmu
    • mengevaluasi hasil belajar.

    Sedangkan prinsip-prinsip adult learning adalah bahwa orang dewasa akan termotifasi untuk mempelajari sesuatu yang:

    • relevan dengan kebutuhannya
    • didasarkan apa yang sudah dipelajari/diketahui sebelumnya atau pengalaman yang telah dimilikinya
    • melibatkan dirinya secara aktif
    • memfokuskan pada masalah
    • didesain sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat bertanggungjawab atas kegiatan belajarnya
    • dapat diterapkan secara langsung
    • melibatkan kegiatan refleksi
    • didasarkan pada saling percaya dan saling menghormati
  3. Problem based learning (PBL)
  4. Sekalipun terdapat perbedaan pemahaman mengenai PBL, karena ada yang menggunakannnya sebagai metode pengajaran dan sebagai desain kurikulum, secara umum PBL lebih banyak dipergunakan sebagai strategi instruksional. PBL ditandai dengan adanya kegiatan siswa mengidentifikasi kasus sebagai pemicu agar siswa dapat menentukan konsep dan prinsip yang harus dipelajari bertolak dari kasus tersebut. Fokusnya adalah kasus yang terdiri dari fenomena yang membutuhkan penjelasan. Ilmu baru diperoleh pada saat siswa mengerjakan dan mempelajari hal-hal terkait dengan kasus tersebut.
    Selama 30 tahun, bukti menunjukkan bahwa metode ini berhasil mendorong siswa untuk melakukan self directed learning, effective learning, berfikir kritis, kerjasama kelompok, pemahaman – tidak sekedar hafalan dan mengajarkan profesionalisme.

  5. Integrasi dan interprofesional
  6. Ada dua pendekatan integrasi yang biasa diterapkan di pendidikan kedokteran, yakni integrasi horizontal dan integrasi vertical. Integrasi horizontal ditunjukkan dengan adanya integrasi antara berbagai disiplin yang biasanya ditawarkan pada tuhun yang sama. Pengorganisasian bedasarkan system tubuh adalah contoh integrasi horizontal.
    Integrasi vertical adalah mengintegrasikan berbagai disiplin yang umumnya diberikan pada fase yang berbeda, misalnya fase 1 dengan fase 3. Pengenalan kasus klinik sejak awal dan membahasnya berdasarkan basic dan clinical science adalah contoh integrasi vertical.
    Selain integrasi konten, hal lain yang patut dipertimbangkan adalah adanya interprofessional dan multiprofessional teaching. Interprofesional teaching mengharuskan siswa untuk melihat mata pelajaran tidak hanya dari perspektifnya profesinya saja, akan tetapi juga dari perspektif profesi lain. Sebagai contoh, bagi seorang dokter, penyakit tidak hanya dilihat dari perspektif ilmu kedokteran, baik biomedis maupun klinik, akan tetapi penyakit juga harus dilihat dari perspektif social, budaya, etika, psikologi, komunikasi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, proses pembelajaran ilmu kedokteran juga harus dikaitkan dengan ilmu-ilmu lainnya.

  7. Community based
  8. Para ahli menyarankan agar kurikulum disusun sedemikian rupa sehingga paling tidak, 10% dari seluruh kegiatan belajar mahasiswa selama di pendidikan dokter gigi dapat dilakukan di komunitas, karena pada gilirannya nanti mereka akan menjadi dokter yang bertugas di komunitas. Kolaborasi antara puskesmas dengan institusi pendidikan dokter gigi harus mulai dilakukan, agar mahasiswa benar-benar dapat belajar di tempat kerja. Dengan mendapat kesempatan untuk belajar di puskesmas, mahasiswa belajar untuk melakukan: multiprofessional team work, kontak dengan setting komunitas yang sesungguhnya, serta memahami kultur masyarakat tersebut. Pengalaman seperti ini akan sangat berguna bagi praktek mereka sebagai care provider.

  9. Electives
  10. Elektive program saat ini dikembangkan di banyak perguruan tinggi karena sangat bermanfaat bagi siswa. Program elektif ini dapat juga dikategorikan sebagai student selected component yang didesain untuk memenuhi kebutuhan tiap siswa, yang mungkin berbeda antara satu dengan lainnya.

  11. Systematic approach

Faktor-faktor yang mempengaruhi perlu diterapkannya systematic approach adalah:

    • semakin kompleksnya spesialisasi di bidang kedokteran dan kedokteran gigi
    • untuk meyakinkan bahwa semua siswa memiliki pengalaman belajar yang sama
    • perubahan menuju diterapkannya outcome based education mengharuskan pengalaman belajar dan konten kurikulum direncanakan sedemikian rupa sehingga learning outcome dapat dicapai.
    • Adanya konsep kurikulum inti yang berisi tentang kompetensi penting yang harus dimiliki seorang dokter gigi
Leave a reply