You are here

PENATALAKSANAAN TRAUMA DENTAL PADA GIGI SULUNG

E-mail Print PDF

PENATALAKSANAAN TRAUMA DENTAL PADA GIGI SULUNG

Disajikan dalam acara PDGI 12 januari 2012

Aula RS Panti Wilasa Citarum

 

*Drg Sandy Christiono, SpKGA

**Drg Dyah Perwitasari, SpKGA

*Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi UNISSULA Semarang

** Klinik Gigi dan Dewasa Nadira Semarang

Penelitian di Negara Denmark menunjukkan bahwa 30 % dari anak-anak mengalami trauma pada gigi sulung/sulung dan 22% pada gigi permanen. Insidensi tertinggi pada gigi sulung pada anak usia 1-3 tahun. Dan pada usia 8-11 tahun pada gigi permanen. Laki-laki lebih banyak terjadi trauma dental dibandingkan perempuan. Trauma gigi biasanya mengenai 1 atau 2 gigi dari gigi-gigi anterior, dan terutama incisive pertama antererior RA 1. Akibat paling sering dari trauma adalah goyangnya gigi (dengan atau tanpa pergeseran gigi), intrusi dan avulse; fraktur mahkota dan akar jarang ditemukan 2

Etiologi dari trauma dental adalah banyaknya anak yang belajar berjalan dan berlari dimana koordinasi otot dan keseimbangan yang belum berkembang secara baik. Trauma pada orofasial area kemungkinan oleh karena physical Abuse. Study di Norwegia menunjukkan bahwa anak usia 7 sampai 18 tahun, 48% dari dental trauma didapatkan pada jam sekolah dan 52% persen didapatkan pada waktu luang/dirumah. Pada waktu luang trauma terjadi pada waktu anak sedang bermain. 10% terjadi di jalan-jalan raya dan 50% terjadi ketika sedang bermain sepeda. Dan 8% kecelakan terjadi pada olah raga1,3. Factor-faktor predisposisi yang menyebabkan adanya truma pada gigi anak adalah class II divisi 1, overjet 3-6 mm, overjet 6 mm. dari 2500 anak yang mengalami trauma 52 % → Konservasi Gigi 37 % dirawat Endodontic, 41 % dirawat Crown dan Bridge 17 % Tidak dirawat. 3

Dental trauma biasanya mendapatkan asuransi kecelakaan, riwayat dan pemeriksaan klinis wajib dilakukan, dan jika memungkinkan dilakukan Foto . Rekam medis tentang riwayat kecelakan dapat menentukan:  a)status dari gigi-gigi, b) prognosa, 3)kompilkasi medis, 4)kemungkinan proses pengadilan. Pertanyaan yang ditanyakan meliputi:

  1. Kapan kecelakaan tersebut terjadi
  2. Dimana terjadinya kecelakaan
  3. Bagamaimana kronologi kejadiaanya
  4. Adakah gejala lain yang timbul
  5. Adakah gigi yang hilang
  6. Apakah pemberian imunisasi up yo date. 4

Pemeriksaan fisik harus segera dilakukan terutama daerah yang terkena trauma, berhati-hati terhadap pembersihan debris pada daerah luka. Jika trauma terjadi fraktur gigi struktur gigi perlu diperhatikan dan ada tidaknya pulpa yang terbuka. Keretakan pada struktur gigi dapat dilihat dengan menggunakan transilumination. Tes vitalitas dilakukan untuk mengetahui vitalitas dari pulpa. Diagnosis trauma tidak dapat ditegakkan tanpa pemeriksaan radiografi pada gigi yang mengalami trauma. Dengan pemeriksaan radiografi dapat menunjukkan adanya frakture pada gigi yang terkena trauma. 3,5

Jika anak belum diimunisasi, dapat dilakukan injeksi intamuskular dengan menggunakan tetanus toxoid 0,5 ml. hal tersebut digunakan sebelum penanganan pada kasus luksasi gigi:. Penggunaan antibiotic tidak diperlukan jika tidak kerjadi trauma pada jaringan lunak dan jaringan dento alveolar. Antibiotic digunakan untuk pencegah adanya infeksi bukan sebagai pengganti  debridement dari luka. Penggunaan obat-obatan mengacu pada berat badan anak. Management luksasi, concussion dan subluxation adalah radiografi periapikal, makan minum makan lunak selama 1-2 minggu, memberitahu orang tua kemungkinan akan kelanjutan dari gejalanya seperti nekrosis pulpa dan serta dilakukan follow up adanya gejala yang timbul.3,5

Management dari intrusive luksasi adalah jika mahkota gigi masih terlihat dan tidak terdapat kerusakan dari tulang alveolar biarkan gigi tersebut untuk erupsi, dan jika gigi terlalu intrusi lakukan pencabutan segera. Gigi intrusi biasanya tidak memerlukan suatu perawatan karena gigi akan dapat erupsi kembali dalam 6 bulan.  Management gigi avulsi: avulse dari gigi sulung tidak perlu di replantasi oleh karena replantasi dari gigi avulsi dari gigi sulung dapat menekan darah pada soket dan dari akar sendiri yang dapat menggangu perkembangan dari gigi permanen itu sendiri selain itu pada anak cukup sulit untuk dilakukan. Splinting dari gigi sulung cukup sulit untuk dilakukan, tetapi bukannya tidak mungkin. Perbaikan jaringan periodontium pada anak cukup bagus.4,5

Bila terjadi fraktur mahkota, prinsip-prinsip yang sama harus dilakukan seperti pada perawatan-perawatan gigi tetap. Akan tetapi, bila kooperatif pasien buruk, fraktur gigi yang mengenai dentin dapat tidak diberikan perawatan dan hanya dilakukan pengamatan. Banyak fraktur mahkota mengenai pulpa, dan dalam kasus-kasus ini gigi harus dicabut, terutama jika pasien tidak menginginkan dilakukan perawatan pulpa sebagai mana mestinya. Gigi-gigi dengan fraktur akar sepertiga apikal atau sepertiga tengah jarang ditemukan, dan dapat dilakukan pengamatan, tetapi gigi-gigi dengan fraktur sepertiga koronal harus dicabut.3,5

Walaupaun gigi insisve sulung yang mengalami trauma harus dipertahankan, aspek paling serius dari trauma pada gigi incisive sulung adalah kerusakan yang dapat terjadi pada gigi-gigi tetap penggantinya yang akan berkembang kearah palatal dari akar-akar gigi sulung. Tipe kerusakan yang paling umum adalah hipoplasia dan hipomineralisasi yang berat yang diderita anak usia 3 atau 4 tahun.2,5

Sangat penting mendiskusikan dengan orang tua perkembangan lebih lanjut dari luksasi dan avulse gigi sulung. Meskipun sulit untuk memprediksi prognosis dari gigi permanentnya. Kemungkinan-kemungkanan terburuk harus dijelaskan. Perkembangan gigi permanen tergantung pada a) arah dan displasment dari akar gigi sulung, tingkat keparahan dari tulang alveolar, stage formation dari gigi gigi permanen. Kemungkinan kerusakan pada gigi sulung dan permanen adalah nekrosis dari pulpa gigi sulung dengan diskolorisasi dan kemungkinan abses, resobsi internal gigi sulung, ankilosis gigi sulung, hipoplasia.2,3

Referensi

  1. Goran korch & Sven Paulsen.2001 Pediatric dentistry – a clinical approach, page
  2. Andlaw, R. J., dan W. P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd edition. New York : Churchill Livingstone.
  3. Mc Donal, R. And Avery, D. R. 2004. Dentistry for the child and Aldolescent. 8 th ed St Louis, Mosby Years Book, Inc,
  4. Angus c Cameron & Richard P Widmer. 2003.handbook of pediatric dentistry. P.87-137
  5. Guideline on management of acute dental trauma