You are here

Jurnal Penelitian Fissure Sealant Interface Microleakage Using One step Adhesives

E-mail Print PDF

Fissure Sealant Interface Microleakage Using One step Adhesives

Sandy Christiono,drg,.SpKGA

Faculty of Dentistry, Islamic University of Sultan Agung

Semarang – Indonesia

Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Abstraks

This study evaluated the efficacy of a one step adhesives in reducing microleakage after  water storage and thermocycling. eighteen freshly extracted caries-free human premolars  were used. The teeth were randomly divided into two groups; Group I: control etch adhesive (GC),Group II: G Bond One step adhesive (GC) The teeth were restored using helioseal Vivadent. Group II Each layer was cured using the Spectrum 800 curing light (Dentsply/Caulk) for 20 seconds at 600mW/cm2. The teeth were stored in artifisial saliva for 7 days in incubator. Samples were thermocycled 250x between 5°C and 55°C with a dwell of 30 seconds, then placed in a 0.5% methylene blue dye solution for 24 hours at 37°C. Samples were sectioned longitudinally  and evaluated for microleakage at the occlusal and gingival margins under a microscope at 40x magnification. Dye penetration was scored: 0: no microleakage visible, score 1: microleakage up to half of the fissure, score 2: microleakage more than half of the fissure. Mann-Whitney test was used to demonstrate significantly more dye penetration in Group I and Group II. When comparing the scores for two group, the Mann Whitney test showed no significant difference in dye penetration for etch and One step adhesive (p>0.05). Based on the results of this study, it can be concluded that etc and one step adhesive in the fissure sealant no significant difference to reduce of microleakage in study in vitro.

 

Kata Kunci : Microleakage, fissure sealant, Resin Bis-GMA, one step adeshive, dye penetration

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Herle GP, Joseph T, Varma B, Jayanthi M. Comparetive Evaluation of Glass Ionomer and Resin Bis-GMA Fissuresealant Using Noninvasive and Invasive Techniques- A SEM and Mikroleakage Study. J Indian Soc Pedo Prey Dent 2004, 22 (2); p. 56-62
  2. Kaste LM. Coronal caries in primary and permanent dentition of children and adolescent 1-17 years of age. 1996: 631-634
  3. Kadiyanti,L. Gambaran Kebersihan Gigi dan Mulut, Frekuensi menyikat Gigi dan Karies pada Penderita Anak yang Datang ke Klinik Pedodonsia FKG Unair 1998, p. 23-24
  4. Deliperi S, DN Bardwell, C Wegley. Restoration Interface Mikroleakage Using Two Total Etch and Two Self Etch Adhesive.Operative Dentistry ,2007:174-      179
  5. Hatrick C.D. Dental Material; Clinical Application for Dental Assistants and Dental Hygienist, Saunders, 2003: 60-88
  6. Pazinatto F.B, Campos B.B. Effect of the number of Thermocycles on Microleakage of Resin composite restorations, pasqui. Odontol.bras, 2003, 17(4)
  7. Smith LA, OBrient, Retief. Mikroleakage of two dentinal bonding restorative system. J Dent. 2008,67;309
  8. Hermina M. Perbaikan sealant Resin Bis-GMA . Fakultas Kedokteran Gigi Bagian Pedodonsia USU. 2003: 1-2
  9. Vanessa P, Singorethi, pereira.. In Vitro Evaluation of Microleakage of Different Materials Used as Pit-and-Fissure Sealant. Braz Dent J 2006,17(1): 49-52
  10. Hevinga M.A., .2007 : Microleakge and sealant penetration in contaminated carious fissures. Journal of dentistry. 2007, 909 – 914
  11. Nahid A, Negar, NorouZi,. The Effect of Bonding Agent on the microleakage of sealant following contamination with saliva, J Indian Soc Pedod prevent          dent. 2008
  12. Laurence, Michele, Marrie, Thomas. Journal of adhesive dentistry .2004, 6 (1) : 43-48 ;
  13. Mc Donal, R. And Avery, D. R.. Dentistry for the child and Aldolescent. 8 th ed St Louis, Mosby Years Book, Inc, 2004: 357-360
  14. Droz, Bouter D, Courson F.. In Vitro Mikroleakage of two sealant : first result of a multicentrik study. Journal European cells and material vol 10. 2005:.15

Perawatan Endodontik pada anak

E-mail Print PDF

Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa, yaitu untuk meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal sekitarnya serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa tidak terdapat lagi simtom, dapat berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-tanda patologis yang lain. Faktor pertimbangan khusus diperlukan pada saat memutuskan rencana perawatan yang sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu untuk mempertahankan panjang lengkung rahang 1,2. Banyaknya kunjungan pada anak sering sekali membuat pasien tidak kooperatif dan sering juga kesibukan oleh orang tua yang menyebabkan perawatan pada endo pada anak sering mengalami kegagalan. Kurangnya sarana prasarana terutama foto rontgen dalam praktek dokter gigi juga membuat penanganan endo pada sering mengalami kegagalan. 1 visit endo pada anak merupakan alternative suatu perawatan yang bisa dilakukan untuk mempersingkat waktu dan dilakukan seideal mungkin.


1.Pulpotomi
Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar gigi6. Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa. Biasanya jaringan pulpa di bagian korona yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar 1,3. Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtomsimtom khususnya pada anak-anak14. Indikasi pulpotomi adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada pencabutan, untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks akar belum terbentuk sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi 1,4. Kontraindikasi pulpotomi adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan
penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, gigi dengan abses akut, resorpsi akar internal dan eksternal yang patologis, kehilangan tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi 4,5. Saat ini para dokter gigi banyak menggunakan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Formokresol merupakan salah satu obat pilihan dalam perawatan pulpa gigi sulung dengan karies atau trauma. Obat ini diperkenalkan oleh Buckley pada tahun 1905 dan sejak saat itu telah digunakan sebagai obat untuk perawatan pulpa dengan tingkat keberhasilan yang tinggi 3,7. Beberapa tahun ini penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung semakin meningkat. Bahan aktif dari formokresol yaitu 19% formaldehid, 35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air. Trikresol merupakan bahan aktif yang kuat dengan waktu kerja pendek dan sebagai bahan antiseptic untuk membunuh mikroorganisme pada pulpa gigi yang mengalami infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid berpotensi untuk memfiksasi jaringan 3,5,7.
Sweet mempelopori penggunaan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Awalnya perawatan pulpotomi dengan formokresol ini dilakukan sebanyak empat kali kunjungan namun saat ini perawatan pulpotomi dengan formokresol dapat dilakukan untuk satu kali kunjungan7.
Beberapa studi telah dilakukan untuk membandingkan formokresol dengan kalsium hidroksida dan hasilnya memperlihatkan bahwa perawatan pulpotomi dengan formokresol pada gigi sulung menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada penggunaan kalsium hidroksida. Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital. Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi mikroba7. Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein seluler untuk menguatkan jaringan. Penelitian-penelitian secara histologis dan histokimia menunjukkan bahwa pulpa yang terdekat dengan kamar pulpa menjadi terfiksasi lebih ke arah apikal sehingga jaringan yang lebih apikal dapat tetap vital. Jaringan pulpa yang terfiksasi kemudian dapat diganti oleh jaringan granulasi vital 4,8.
Perawatan pulpotomi formokresol hanya dianjurkan untuk gigi sulung saja, diindikasikan untuk gigi sulung yang pulpanya masih vital, gigi sulung yang pulpanya terbuka karena karies atau trauma pada waktu prosedur perawatan7.

1.1 Pulpotomi Vital
Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan untuk gigi sulung 4,5 :

  1. Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat perawatan
  2. Isolasi gigi.
    Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan kapas dan saliva ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan.
  3. Preparasi kavitas.
    Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.
  4. Ekskavasi karies yang dalam.
  5. Buang atap pulpa.
    Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan rendah. Masukkan ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal seperlunya     untuk membuang atap kamar pulpa.
  6. Buang pulpa bagian korona.
    Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar kecepatan rendah.
  7. Cuci dan keringkan kamar pulpa.
    Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril. Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari kamar pulpa. Keringkan dan kontrol perdarahan dengan kapas steril.
  8. Aplikasikan formokresol.
    Celupkan kapas kecil dalam larutan formokresol, buang kelebihannya dengan menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam kamar pulpa, menutupi pulpa bagian akar selama 4 sampai dengan 5 menit.
  9. Berikan bahan antiseptik.
    Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol dalam bagian yang sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas yang mengandung formokresol dan berikan pasta secukupnya untuk menutupi pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan kapas basah secara perlahan dalam tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada sisa-sisa infeksi.
  10. Restorasi gigi.
    Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menambal dengan amalgam atau penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk mahkota stainless steel.



    Gambar B. Langkah-langkah Perawatan Pulpotomi Vital Formokresol Satu Kali Kunjungan.1. Ekskavasi karies, 2. Buang atap kamar pulpa, 3. Buang pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator, 4. Pemotongan pulpa di orifis dengan bor bundar kecepatan rendah, 5. Pemberian formokresol selama 5 menit, 6. Pengisian kamar pulpa dengan campuran zinc oxide dengan formokresol dan
    eugenol, 7. Gigi yang telah di restorasi6.

1.2 Pulpotomi Non Vital
Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar8. Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan pulpotomi mortal (pulpotomi devital)4.
Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar4.
Langkah-langkah perawatan pulpotomi devital4 :
Kunjungan pertama:

  1. Siapkan instrumen dan bahan.
  2. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  3. Preparasi kavitas.
  4. Ekskavasi karies yang dalam.
  5. Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah.
  6. Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar.
  7. Cuci dan keringkan pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril.
  8. Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.
  9. Tutup kavitas dengan tambalan sementara.
  10. Bila memakai arsen instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3 hari, sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu

Kunjungan kedua :

  1. Isolasi gigi dengan rubber dam.
  2. Buang tambalan sementara.
    Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan selanjutnya.
  3. Berikan bahan antiseptik.
    Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet.
  4. Aplikasi semen zinc oxide eugenol.
  5. Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Diterjemahkan dari Handbook of Clinical Endodontics oleh E. H. Sundoro. Jakarta : Penerbit UI.
2. Harty, F. J. 1993. Endodonti Klinis. Edisi Ketiga. Diterjemahkan dari Endodontics in Clinical Practice oleh L. Yuwono. Jakarta : Hipokrates.
3. Welbury, R. R. 2001. Paediatric Dentistry. 2nd edition. New York : Oxford UniversityPress.
4. Andlaw, R. J., dan W. P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd edition. New York : Churchill Livingstone.
5. Kennedy, D. B. 1992. Konservasi Gigi Anak. Diterjemahkan dari Paediatric Operative Dentistry oleh N. Sumawinata dan S. H. Sumartono. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. Curzon, M. E. J., J. F. Roberts., dan D. B. Kennedy. 1996. Kennedy’s Paediatric Operative Dentistry. 4th edition. London : Wright.
7. Finn, S. B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th edition. Philadelphia : W. B. Saunders.
8. Mathewson, R. J., dan R. E. Primosch. 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry;. 3rd edition. Chicago : Quintessence Publishing.

 

Oleh : Drg Sandy Christiono SpKGA
Staf Pengajar FKG UNISSULA

Page 41 of 45