You are here

Rampant caries pada gigi Sulung, Berbahayakah?

E-mail Print PDF

 

Fenomena gigi anak yang rusak pada usia pra sekolah sudah banyak kita temukan di sekitar kita, selain itu banyak orang tua mengeluhkan gigi anaknya cepat rusak dan khawatir jika gigi anaknya akan menyebabkan rasa sakit dikemudian hari. Hampir 20 persen populasi anak dunia mengalami rampant karies, di beberapa negara rampant karies menyerang tidak hanya pada sosio ekonomi rendah, sosio ekonomi tinggi juga mempunyai resiko yang tinggi pula. “Apa sebenarnya rampant karies itu” rampant karies adalah suatu karies gigi yang parah dimana bisa terdapat pada gigi susu atau gigi permanen dengan karakteristiknya kerusakan yang cepat yang dapat merusak mahkota gigi dengan pola yang terkena adalah gigi depan rahang atas. Penampakan secara kasat mata gigi terlihat  coklat atau hitam. “ apa yang menyebabkan rampant kariesrampant karies banyak dihubungkan dengan pola menyusui pada anak serta dari pola asuh yang tidak mengkontrol penggunaan botol susu yang digunakan pada malam hari agar anak bisa tidur. Bahkan yang menggunakan ASI juga bisa terkena rampant karies jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan dengan frekwensi yang sangat tinggi.

Seberapa berbahayakah rampant karies. Rampant karies jika dibiarkan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan adanya rasa sakit yang terus menerus, rasa sakit ini akan mengurangi dari pola makan karena anak akan merasa kesulitan dan merasa sakit pada saat makan. Jika berlangsung terus menerus kebutuhan nutrisi anak akan semakin berkurang yang akan mengganggu pertumbuhkembangan anak.

Bagaimanakah pencegahan terhadap rampant karies pada penggunaan susu dan air minum

  • Mengatur pola makan anak dan meminum susu dengan waktu yang singkat
  • Jangan biarkan anak minum tanpa diawasi oleh orang tua
  • Usahakan menggunakan gelas daripada botol susu
  • Jangan gunakan botol susu untuk waktu tidur.
  • Kontrol ke dokter gigi tiap 6 bulan untuk mengkontrol kondisi gigi anak.

 

Oleh : drg Sandy Christiono SpKGA

Disajikan di paragon mall

Management of Pain during Orthodontic Treatment

E-mail Print PDF

Management of Pain during Orthodontic Treatment

Drg R Rama Putranto Mkes PhD, Staf pengajar UNISSULA

**drg Nurhaerani, SpKGA PhD

*** drg Sandy Christiono SpKGA, Staf pengajar UNISSULA

ABSTRAK

Pain is one of the most important reasons why patients are discouraged from seeking orthodontics treatment. The mechanisms whereby the application of orthodontic forces cause pain are not yet fully understood, but there are indications that these perceptions are due to changes in blood flow in the periodontal ligament and correlated with the presence of prostaglandins, substance P and other substances. There is no doubt that the perception of orthodontic pain is part of an inflammatory reaction causing changes in blood flow following orthodontic force application. This is known to result in the release of various chemical mediators eliciting a hyperalgesic response. Orthodontic tooth movement is known to cause inflammatory reactions in the periodontium and dental pulp, which will stimulate release of various biochemical mediators causing the sensation of pain. Burstone (1962) classified a painful response to orthodontic mechanics in two ways: one depends on the relationship of force application with pain and the other according to the time of onset. Orthodontic pain can be managed by the use of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) for pain control, even though other methods (such as anesthetic gel, bite wafers) have been suggested.

 

Key words : Management of pain, Orthodontic Treatment, Inflammatory reactions,  NSAID

Page 41 of 49